ekologi FAKTOR LINGKUNGAN

PRAKTIKUM I

FAKTOR LINGKUNGAN


OLEH :

NAMA : aat

NO. STAMBUK : aaaaa

PROGRAM STUDI : BIOLOGI

JURUSAN : BIOLOGI

KELOMPOK : aaa

ASISTEN PEMBIMBING : aatblanck

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2002

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkungan adalah suatu sistem yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme. Artinya, tanpa adanya lingkungan, suatu organisme tidak akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dalam hal ini, faktor lingkungan memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup organisme.

Secara garis besar, faktor lingkungan terbagi atas dua, yaitu faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik terdiri atas manusia, hewan, tumbuhan dan mikroorganisme. Sedangkan faktor-faktor abiotik contohnya adalah tanah, air, cahaya, udara, suhu, kelembaban, curah hujan, dan lain-lain.

Baik faktor biotik maupun abiotik memberikan pengaruh yang sangat besar bagi suatu organisme. Sebagai contohnya adalah air yang merupakan faktor lingkungan yang sangat penting bagi makhluk hidup. Begitu juga dengan tanah, suhu, cahaya, udara, kelembaban, dan lain-lain. Semuanya merupakan faktor lingkungan yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup.

Oleh karena itu, pengetahuan mengenai faktor lingkungan sangat diperlukan. Sehingga kita dapat mengetahui faktor-faktor lingkungan beserta peranannya bagi kehidupan.

B. Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang ingin dicapai dari praktikum ini adalah :

1. Untuk mengetahui hubungan antara beberapa parameter fisik dan kimia lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan tumbuhan.

2. Untuk mengenalkan dan melatih mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan parameter fisik dan kimia lingkungan.

Manfaat yang ingin diperoleh dari praktikum ini adalah :

1. Dapat mengetahui hubungan antara beberapa parameter fisik dan kimia lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan tumbuhan.

2. Dapat mengenalkan dan melatih mahasiswa dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan parameter fisik dan kimia lingkungan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Makhluk hidup dapat melangsungkan hidupnya jika makhluk hidup tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan dapat berupa suhu, cahaya, temperatur dan lain sebagainya. Faktor-faktor ini juga merupakan komponen abiotik dalam ekosistem (Kimball, 1983:53).

Faktor lingkungan abiotik secara garis besar dapat dibagi atas faktor fisika dan faktor kimia. Faktor fisika antara lain ialah suhu, kadar air, porositas, dan tekstur tanah. Faktor kimia antara lain adalah salinitas, pH, kadar organik tanah, dan unsur-unsur mineral tanah. Faktor lingkungan abiotik sangat menentukan struktur komunitas hewan-hewan yang terdapat di suatu habitat (Suin, 1997:1).

Suatu kondisi diberi takrif sebagai suatu faktor lingkungan abiotik yang berbeda dalam ruang dan waktu, dan terhadap kondisi ini makhluk memberi tanggapan secara berbeda-beda. Contohnya meliputi suhu, lengas nisbi, pH, salinitas, kecepatan arus air sungai, dan kadar pencemar. Suatu kondisi dapat dimodifikasi oleh hadirnya makhluk lain, misalnya pH tanah dapat berubah oleh hadirnya tumbuhan, suhu dan lengas udara mungkin berubah di bawah tajuk pohon di hutan (Soetjipta, 1993:30).

Tanah dapat didefinisikan sebagai medium alami untuk pertumbuhan tanaman yang tersusun atas mineral, bahan organik, dan organisme hidup. Apabila pelapukan fisik batuan disebabkan oleh perubahan temperatur dan dekomposisi kimia hasilnya memberikan sumbangan yang cukup banyak dalam pembentukan tanah. Kegiatan biologis seperti pertumbuhan akar dan metabolisme mikroba dalam tanah berperan dalam membentuk tekstur dan kesuburan tanah (Subba, 1994:225).

Cahaya juga memainkan peranan penting dalam penyebaran, orientasi, dan pembungaan tumbuhan. Di dalam hutan tropika, cahaya merupakan faktor pembatas dan jumlah cahaya yang menembus melalui sudut hutan tampak menentukan lapisan atau tingkatan yang terbentuk oleh pepohonannya. Keadaan ini mencerminkan kebutuhan tumbuhan akan ketenggangan terhadap jumlah cahaya yang berbeda-beda di dalam hutan (Ewusie, 1990:94).

Temperatur dan kelembaban umumnya penting dalam lingkungan daratan. Interaksi antara temperatur dan kelembaban, seperti pada khususnya interaksi kebanyakan faktor, tergantung pada nilai nisbi dan juga nilai mutlak setiap faktor. Temperatur memberikan efek membatasi yang lebih hebat lagi terhadap organisme apabila keadaan kelembaban adalah ekstrim, yakni apabila keadaan tadi sangat tinggi atau sangat rendah daripada apabila keadaan demikian itu adalah sedang-sedang saja (Odum, 1996:34).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 19 April 2008 pukul 08.00 – 10.00 WITA dan bertempat di sekitar Fakultas MIPA Universitas Haluoleo.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum faktor lingkungan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat dan kegunaan pada praktikum faktor lingkungan

No.

Nama Alat

Kegunaan

1.

Termometer air raksa/ alkohol

Untuk mengukur suhu udara dan kelembaban udara

2.

Soil tester

Untuk mengukur pH tanah dan kelembaban tanah

Bahan yang digunakan dalam praktikum faktor lingkungan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Bahan dan kegunaan pada praktikum faktor lingkungan

No.

Nama Bahan

Kegunaan

1.

Aquadest

Untuk membasahi ujung soil tester

2.

Tissue

Untuk membersihkan ujung soil tester

C. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum faktor lingkungan adalah sebagai berikut :

1. Pengukuran Suhu Udara

a. Melakukan pengukuran suhu dengan menggunakan termometer pada beberapa tempat berbeda (ruangan, tempat terbuka,di bawah pohon dan areal terbuka).

b. Masing-masing hasil pengukuran dilakukan sebanyak 4 kali pada selang waktu 5-10 menit dan kemudian hasilnya dirata-ratakan.

c. Membuat diagram batang hubungan antara tempat dengan suhu udara.

2. Pengukuran Kelembaban Udara

a. Pengukuran kelembaban udara dilakukan dengan menggunakan 2 buah termometer (dikonversikan dari suhu ke kelembaban) dan dilakukan pada tempat yang berbeda (ruangan, tempat terbuka, di bawah pohon dan areal terbuka).

b. Melakukan pengulangan pengukuran pada masing-masing tempat berbeda sebanyak 4 kali, dan hasilnya dirata-ratakan.

c. Membuat diagram batang hubungan antara tempat dengan kelembaban udara.

3. Pengukuran pH tanah dan Kelembaban Tanah

a. Pengukuran pH tanah menggunakan soil tester dan dilakukan pada beberapa tempat (tempat terbuka, di bawah pohon dan areal terbuka) dengan cara menancapkan bagian ujung dari soil tester sampai kira-kira 5-15 cm ke dalam tanah, kemudian menekan knopnya. Maka akan terbaca nilai skala pH dari tanah tersebut.

b. Pengukuran kelembaban tanah dilakukan dengan menggunakan soil tester pada tanah yang diperkirakan mengandung air pada tempat tertentu (tempat terbuka, di bawah pohon dan areal terbuka).

c. Melakukan pengulangan pengukuran (baik pH maupun kelembaban tanah) pada masing-masing tempat berbeda sebanyak 4 kali dan hasilnya dirata-ratakan.

d. Membuat diagram batang hubungan antara tempat dengan pH dan kelembaban tanah.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Pengamatan Suhu Udara

No.

Areal Pengamatan

Suhu Udara (oC)

Suhu Udara (°C)

1

2

3

4

1.

Ruangan

28°

28°

27°

27°

27,5°

2.

Tempat terbuka

31°

30°

29°

30°

30°

3.

Di bawah pohon

28°

28°

28°

28°

28°

4.

Areal terbuka

34°

35°

36°

36°

35,25°

2. Pengamatan Kelembaban Udara

No.

Areal Pengamatan

Kelembaban Udara (%)

Kelembaban

Udara (%)

1

2

3

4

1.

Ruangan

0 %

1 %

1 %

2,5 %

1,125 %

2.

Tempat terbuka

2 %

1 %

1 %

2,5 %

1,625 %

3.

Di bawah pohon

1 %

2 %

1 %

1,5 %

1,375 %

4.

Areal terbuka

3 %

3 %

2 %

2 %

2,5 %

3. Pengamatan pH Tanah

No.

Areal Pengamatan

pH Tanah

pH Tanah

1

2

3

4

1.

Tempat Terbuka

5,5

5,4

6,2

5,6

5,7

2.

Di bawah pohon

6,2

6,2

6

6

6,1

3.

Areal terbuka

5,6

5,6

4,8

4

5

4. Pengamatan Kelembaban Tanah

No.

Areal Pengamatan

Kelembaban Tanah (%)

Kelembaban

Tanah

1

2

3

4

1.

Tempat Terbuka

25 %

40 %

70 %

70 %

51,25 %

2.

Di bawah pohon

25 %

25 %

25 %

25 %

23 %

3.

Areal terbuka

13 %

30 %

25 %

47 %

28,75 %


B. Pembahasan

Dalam praktikum ini, kegiatan yang pertama dilakukan adalah mengukur suhu udara pada tempat yang berbeda-beda (dalam ruangan, tempat terbuka, di bawah pohon dan areal terbuka). Setelah diukur dengan 4 kali pengulangan dengan selang waktu 5-10 menit, ternyata suhu di ruangan dan di tempat terbuka cenderung menurun. Sedangkan di bawah pohon suhunya tidak berubah, yaitu tetap 28° C. Pada areal terbuka suhu cenderung meningkat. Setelah dirata-ratakan, ternyata suhu tertinggi berada pada areal terbuka, yaitu 35,25° C. Hal ini terjadi karena pada areal terbuka mendapatkan pancaran sinar matahari secara langsung, sehingga menyebabkan makin lama suhunya semakin meningkat. Hal yang sebaliknya terjadi di dalam ruangan yang tidak mendapatkan pancaran sinar matahari secara langsung, sehingga rata-rata suhunya paling rendah, yaitu 27,5° C. Sedangkan rata-rata suhu sedang terjadi di tempat terbuka dan di bawah pohon, karena ada beberapa tempat yang terlindungi dari cahaya matahari langsung, misalnya dengan adanya pohon-pohon ataupun atap bangunan, sehingga suhunya tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin.

Kegiatan yang kedua adalah mengukur kelembaban udara pada tempat yang berbeda-beda (dalam ruangan, tempat terbuka, di bawah pohon dan areal terbuka). Setelah diukur dengan 4 kali pengulangan, ternyata di areal terbuka rata-rata kelembaban udaranya paling tinggi, yaitu 2,5 %. Sedangkan yang paling rendah adalah di dalam ruangan, yaitu 1,125 %. Hal ini terjadi karena pada areal terbuka suhu udara sangat panas sebagai akibat dari penyinaran cahaya matahari secara langsung. Udara panas umumnya banyak mengandung uap air daripada udara dingin.Tejadinya penguapan air dari permukaan tanah, air dan tumbuhan akibat meningkatnya suhu pada areal terbuka menyebabkan terjadinya peningkatan kandungan uap air di udara, sehingga kelembaban udaranya tinggi. Sebaliknya, di dalam ruangan suhu udara rendah dan hanya sedikit penguapan yang terjadi, sehingga kelembaban udaranya rendah.

Kegiatan yang ketiga adalah mengukur pH tanah pada tempat yang berbeda-beda (tempat terbuka, di bawah pohon dan areal terbuka). Setelah diukur dengan 4 kali pengulangan, ternyata rata-rata pH tertinggi terdapat pada tanah di bawah pohon, yaitu 6,1. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di bawah pohon cenderung bersifat netral, yaitu mendekati pH 7. Tanah di bawah pohon banyak mengandung air dan garam-garam mineral lainnya yang diserap oleh akar pepohonan. Sehingga tanahnya agak basah karena kandungan air di dalamnya. Sedangkan pada tempat terbuka dan areal terbuka, rata-rata pH tanahnya lebih rendah, yaitu 5,7 dan 5. Hal ini menunjukkan bahwa tanahnya cenderung bersifat asam, karena pH-nya dibawah 7. Selain itu, karena pengaruh penyinaran matahari secara langsung, suhu udara menjadi panas. Hal ini menyebabkan tanah menjadi kering dan kekurangan air, sehingga tanah cenderung bersifat asam.

Kegiatan yang keempat adalah mengukur kelembaban tanah pada tempat yang berbeda-beda (tempat terbuka, di bawah pohon dan areal terbuka). Setelah diukur dengan 4 kali pengulangan, ternyata rata-rata kelembaban tertinggi terdapat pada tempat terbuka, yaitu 51,25 % dan kelembaban terendah terdapat pada tanah di bawah pohon, yaitu 23 %. Namun, sebenarnya, menurut teori, hal yang demikian tidak semestinya terjadi. Seharusnya pada tanah di bawah pohon kelembaban tanah lebih tinggi dibandingkan di tempat terbuka. Mengapa ? Karena, tanah di bawah pohon banyak mengandung air dan garam-garam mineral. Karena kandungan airnya tinggi, berarti kelembabannya juga tinggi. Sedangkan pada tanah di tempat terbuka tanahnya kering karena mengandung sedikit air, jadi kelembabannya rendah. Kesalahan yang demikian terjadi karena pada waktu pengukuran di tempat terbuka dan areal terbuka, pengukuran kelembaban tanah tidak dilakukan pada satu tempat yang sama, tetapi pada tempat berbeda. Misalnya pada pengukuran pertama pada tanah yang kering di tempat terbuka, kelembaban tanahnya 25 %. Tetapi, pada pengukuran kedua, ketiga dan keempat kelembaban tanah meningkat menjadi 40 % sampai 70 %. Hal ini terjadi karena pada pengukuran kedua, ketiga dan keempat dilakukan pada tempat yang tanahnya cukup banyak mengandung air. Begitu juga pada areal terbuka. Dengan demikian, pada kegiatan keempat ini terjadi kesalahan teknis. Tetapi, kita telah memahami bahwa pada tanah di bawah pohon kelembabannya cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan di tempat terbuka dan areal terbuka.

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Dari hasil pengamatan pada praktikum ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :

1. Suhu udara suatu daerah sangat dipengaruhi oleh pancaran sinar matahari. Daerah yang menerima pancaran sinar matahari secara langsung suhu udaranya lebih tinggi atau lebih panas dibandingkan dengan daerah yang terlindung atau tidak menerima pancaran sinar matahari secara langsung.

  1. Kelembaban udara sangat dipengaruhi oleh kandungan uap air yang ada di udara. Dalam hal ini, suhu udara akan menentukan tinggi rendahnya kelembaban udara. Udara yang panas memiliki kelembaban yang lebih tinggi dibanding udara dingin karena pada suhu panas penguapan lebih banyak terjadi.
  2. Kadar pH tanah dipengaruhi oleh kandungan air dan garam-garam mineral di dalamnya. Dalam hal ini, tanah yang basah dan mengandung banyak air pH-nya cenderung bersifat netral atau basa, sedangkan tanah yang kering dan mengandung sedikit air cenderung bersifat asam.
  3. Tinggi rendahnya kelembaban tanah dipengaruhi oleh kandungan air yang terdapat di dalam tanah. Tanah yang banyak mengandung air memiliki kelembaban yang lebih tinggi. Sedangkan tanah yang kering dan mengandung sedikit air memiliki kelembaban yang rendah.

B. Saran

Saran yang dapat kami ajukan dalam pelaksanaan praktikum faktor lingkungan adalah agar para asisten dapat menyediakan buku penuntun praktikum secara lengkap, tidak terpisah-pisah. Sehingga para praktikan dapat mempelajari lebih awal materi yang akan dipraktekkan.

DAFTAR PUSTAKA

Ewusie, J. Y., 1990, Ekologi Tropika, ITB Bandung, Bandung.

Kimball, J. W., 1983, Biologi Jilid 3, Erlangga, Jakarta.

Odum, E. P., 1996, Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga, UGM Press, Yogyakarta.

Soetjipta, 1993, Dasar-dasar Ekologi Hewan, Depdikbud Dirjen Dikti, Yogyakarta.

Subba, N. S., 1994, Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman, Universitas Indonesia, Jakarta.

Suin, N. M., 1997, Ekologi Hewan Tanah, Bumi Aksara, Jakarta.

About these ads

About aatunhalu

Aku pengen melihat orang yang selalu optimis pada dirinya

Posted on April 5, 2009, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: