aat praktikum

REAKSI ASAM-BASA

A.     Tujuan Percobaan

Tujuan dari percobaan kali ini yaitu :

1.      Menentukan titik akhir titrasi

2.      Menentukan titik equivalent titrasi

B.     Landasan Teori

Reaksi kimia yang melibatkan pemindahan dari satu molekul ke bentuk molekul lainnya disebut sebagai reaksi Oksidasi – reduksi atau reaksi redoks. Molekul pemberi molekul disebut sebagai zat yang mengalami oksidasd atau reduktor. Sedangkan senyawa yang senantiasa menerima electron disebut sebagai zat yang mengalami reduksi atau oksidator(Lehningger, 1982:151-152).

Reaksi reduksi-oksidasi (redoks) sering kali dihubungkan dengan terjadinya perubahan warna, lebih sering daripada yang diamati dalam reaksi asam basa. Reaksi redoks melibatkan pertukaran electron, dan selalu terjadi perubahan bilangan oksidasi dari dua atau lebih unsure dalam suatu reaksi kimia.

Dalam reaksi redoks, suatu zat mengalami oksidasi (kehilangan elektron). Zat yang mengalami oksidasi memberikan electron pada zat yang menerima electron atau mengalami reduksi.

Suatu zat pereduksi (reduktor) adalah suatu zat kimia yang memberikan electron untuk mereduksi zat lain. Suatu zat pengosikdasi (oksidator) adalah suatu zat kimia yang menyebabkan teroksidasinya zat lain. Pengoksidasi yang umumnya digunakan dalam laboratorium adalah ion permangat (MnO4). Setengah reaksi untuk oksidasi dalam larutannya adalah sebagai berikut:

Reaksi:    MnO4              +            8H+         +       5e    ­­                                        Mn2+  +  4H2O

(Anonim, 2005:7).

Perubahan yang penting terjadi dalam suatu reaksi reduksi-oksidasi dapat dengan mudah terlihat melalui cara pemisahan reaksi keseluruhan ke dalam dua reaksi. Yakni setengah reaksi oksidasi dan setengah reaksi reduksi. Dalam setengah reaksi oksidasi, atom-atom tertentu mengalami peningkatan bilangan oksidasi dan electron tampak pada sebelah kanan persamaan setengah reaksi. Sedangkan sebaliknya, dalam reaksi setengah reduksi, atom-atom lainnya menglami penurunan bilangan oksidasi sehingga electron akan tampak pada sebelah kiri persamaan setengah reaksi.

Dalam suatu persamaan oksidasi-reduksi, keseluruhan dari jumlah atom electron yang sama harus tampak pada masing-masing persamaan setengah reaksi. Ktentuan ini merupakan dasar dari persamaan keseimbangan bilangan oksidasi-reduksi (Petrucci, 1987:35).

C.     Alat dan Bahan

1.Alat

o       Labu Takar 100 mL

o       Gelas Kimia 250 ml

o       Buret 50 mL

o       Pipet volume 25 mL

o       Labu Erlenmeyer 250 mL

o       Batang Pengaduk

o       Statif dan Klem

2. Bahan:

o  Asam Oksalat (COOH)2,2H2O

o  Aquadest

o  NaOH X M

o  HCL X M

o  Indikator P.P

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D. Prosedur Kerja

1. Reaksi redoks

a. Reaksi Redoks Logam Al

– Dimasukkan ke dalam Pb(NO3)2 0,5 M, Zn(NO3)2 0,5 M dan NaNO3 0,5 M

Sekeping logam Al

Sekeping Logam Cu

Sekeping Logam Fe

– Dimasukkan ke dalam Pb(NO3)2 0,5 M, Zn(NO3)2 0,5 M dan NaNO3 0,5 M

  Dimasukkan ke dalam Pb(NO3)2 0,5 M, Zn(NO3)2 0,5 M dan NaNO3 0,5 M

Persamaan reaksi

 – Catat hasil percobaan

 – Disusun logam menurut     berkurangnya kereaktifannya

 

b. Reaksi disproporsionasi

10 tetes H2O2 0,1 M

– Ditambahkan sedikit MnO2

Oksigen dan air

 

 

 

 

 

 

 

 

c.

 

 

 

2.      Penentuan Konsentrasi sLarutan NaOH dengan Bahan Baku Asam Oksalat

20 mL  Asam Oksalat

         Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 mL

         Ditambahkan 4 tetes indicator P.P

         Di titrasi dengan larutan baku NaOH

         Diamati perubahan warna (titik akhir titrasi)

         Di lihat volume NaOH yang digunakan pada buret

         Di hitung konsentrasi NaOH

[NaOH] =

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Penentuan Konsentrasi HCl dengan Titrasi NaOH

25 mL HCl larutan HCl X M

         Dimasukkan ke dalam      Erlenmeyer 250 mL

         Ditambahkan 2 tetes indicator P.P

         Dititrasi dengan menggunakan larutan baku NaOH

         Diamati perubahan warna

         Dilihat volume NaOH yang digunakan

         Dihitung konsentrasi HCl

[HCl] =

 

 

 

E.     Hasil Pengamatan

 

1.      Penentuan Konsentrasi larutan Asam Oksalat


 

 

2.      Penentuan Konsentrasi sLarutan NaOH dengan Bahan Baku Asam Oksalat

3.      Penentuan Konsentrasi HCl dengan Titrasi NaOH

 

 

F. Perhitungan

G. Pembahasan

Titmetri atau volumetri adalah cara analisis jumlah berdasarkan pengukuran volume larutan pereaksi berkepekatan tertentu (peniter/titrant/larutan baku) yang direaksikan dengan larutan contoh yang sedang ditetapkan kadarnya. Pelaksanaan pengukuran volume ini disebut titrasi/peniteran. Peniteran yaitu larutan peniter diteteskan sedikit demi sedikit ke dalam larutan contoh sampai tercapai titik akhir.

Reaksi dasar dalam reaksi asam-basa adalah netralisasi/penetralan yaitu reaksi asam dan basa yang dapat dinyatakan dalam persamaan reaksi berikut:

Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan  penting yaitu asam, basa, dan garam.

Asam secara sederhana didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Beberapa asam dan hasil disosiasinya adalah sebagai berikut:

Sebenarnya, ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air. Setiap proton bergabung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas yang terdapat pada oksigen dari air, dan terbentuk ion-ion hironium:       

Basa, secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. Hidroksida-hidroksida logam yang larut, seperti natrium hidroksida hampir sempurna berdiosiasi dalam larutan air yang encer :

Karena itu basa ini adalah basa kuat. Basa kuat merupakan elektrolit kuat, sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah.

Garam adalah hasil reaksi antara asam dan basa. Proses-proses semacam ini disebut reaksi netralisasi. Definisi adalah benar, dalam artian, bahwa jika sejumlah asam dan basa murni yang ekuivalen dicampur, dan larutannya diuapkan, suatu zat kristalin tertinggal, yang tak mempunyai ciri-ciri khas suatu asam atau basa.Jika persamaan dinyatakan sebagai interaksi molekul-molekul,

 

Pembentukan garam seakan-akan merupakan hasil dari suatu proses kimia sejati. Tetapi ini sebernarnya tidak tepat. Karena baik asam (kuat) maupun basa (kuat), serta pula garam hampir sempurna berdiosiasi dalam larutan,

Sedangkan dalam air, yang terbentuk dalam proses ini, hampir-hampir tak berdiosiasi sama sekali. Karena itu, lebih tepat untuk menyatakan reaksi netralisasi sebagai penggabungan ion-ion secara kimia:

Dalam persamaan ini , ion  dan  tampil pada kedua sisi. Karena dengan demikian tak ada terjadi apa-apa dengan ion-ion ini, persamaan ini disederhanakan menjadi        

Yang menunjukkan bahwa reaksi asam – basa (dalam larutan-air) adalah pembentukkan air.

Dibandingkan dengan zat elektrolit lain, asam dan basa merupakan larutan elektrolit yang paling penting. Khususnya dalam larutan dengan pelarut air, asam dan basa sering membentuk sistem keseimbangan yang penting.

Berbagai teori telah dikemukakan dalam menerangkan sifat asam dan basa. Diantara teori tersebut adalah yang dikemukakan oleh Arhenius. Arhenius mendefinisikan asam sebagai senyawa yang apabila dilarutkan dalam air akan membebaskan ion  hidrogen (H+). Sedangkan basa menurut Arhenius adalah senyawa yang bila dilarutkan dalam air akan melepaskan ion hidroksida (OH). Jadi reaksi netralisasi dari reaksi asam dan basa mampu membentuk garam dan air.

Hasil pengukuran panas netralisasi asam kuat dan basa kuat mendukung teori Arhenius. Dari hasil pengukuran tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam reaksi netralisasi yang ikut bereaksi adalah ion H+ dan OH.

Tetapi kelemahan teori Arhenius adalah bahwa teori ini hanya berbatas pada larutan dengan pelarut air. Selain itu ada pula senyawa-senyawa tertentu yang bereaksi sebagai asam dan basa namun didalamnya tidak ada ion OH yang terlihat. Karena itu jelas bahwa teori Arhenius masih perlu untuk dikembangkan agar dapat menjelaskan kenyataan tersebut. Pada tahun 1992-1923 J.N Brønsted dan M. Lowry mendefinisikan asam dan basa untuk memperbenar teori dari Arhenius. Teori Brønsted menjelaskan asam sebagai senyawa yang dapat memberikan proton.

Dalam melakukan titrasi, sangat diperlukan suatu bahan indikator yang mampu merubah warnanya sesuai dengan PH sekitar.  Indikator adalah suatu zat, yang warnanya berbeda-beda sesuai dengan konsentrasi ion-hidrogen. Ia umumnya merupakan suatu asam atau basa organik lemah yang dipakai dalam larutan yang encer. Asam atau basa indikator yang tak terdiosiasi mempunyai warna yang berbeda dengan hasil diosiasinya. Jenis indikator yang khas adalah asam organik yang lemah dan mempunyai warna berbeda dari basa konjuatnya. Pheniftalin berubah warnanya dari tak berwarna menjadi merah muda saat berada dalam lingkungan basa.

Dalam percobaan ini dilakukan dua percobaan yaitu menentukan konsentrasi NaOH dengan larutan standar dan penentuan konsentrasi HCl dengan titrasi NaOH. Dalam percobaan pertama 20 mL (COOH)2  0,5 N diteteskan 4 tetes indikator P.P    

 

H. Simpulan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

F.      Saran

Saran praktikan adalah dalam melakukan praktikum diharapkan kesiapan peralatannya terutama bahan agar tidak menghambat jalannya praktikum.

 

 

 

 


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II

PERCOBAAN II

REAKSI ASAM – BASA

 

 

 

 

OLEH :

 

 

NAMA                                       : RATNA SARI

STAMBUK                               : F1C107044

PROG.STUDI                           : KIMIA

JURUSAN                                 : KIMIA

KELOMPOK                : V

ASISTEN PEMBIMBING     : HARDIN

 

 

 

 

 

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALUOLEO

KENDARI

2008

 

DAFTAR PUSTAKA

Brown, 1994. Chemistry the Central Science. Prentice Hall. International Limited. London.

 

Petrucci, Ralph M., 1987. Kimia Dasar Edisi Keempat Jilid 2. Erlangga. Jakarta.

Svela, G., 1985. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Media Pusaka. Jakarta.

 

Underwood,1981. Analisa Kimia Kuantitatif. Edisi Keempat. Terjemahan R. Soendoro.Erlangga.Jakarta

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About aatunhalu

Aku pengen melihat orang yang selalu optimis pada dirinya

Posted on Desember 6, 2008, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. kenapa laporan yang diterbitkan kurang lengkap!!!!bisa minta tolong ga kirimin file laporannya ke email saya,makasih sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: