PRAKTIKUM VII
INTERAKSI FAKTOR LINGKUNGAN
(PENGUKURAN KANDUNGAN OKSIGEN DALAM AIR)

Aattttttttttt

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2008

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam ekosistem akuatik, air merupakan komponen ekosistem yang terpenting. Pengetahuan kuantitas dan kualitas air merupakan salah satu dasar dalam mempelajari suatu ekosistem akuatik (Jamili dan Muksin, 2003:28).
Model-model kualitas air banyak sekali, namun dapat dibedakan menurut jumlah dan jenis parameter kualitas air yang ditinjau, teknik penyelesaian matematisnya, dan jumlah dimensi permodelannya. Beberapa model hanya ditujukan bagi salah satu fase daur hidrologi saja (misalnya limpasan permukaan, air kiriman, atau air tanah), dan model lainnya mensimulasikan kombinasi fase-fase tersebut. Kemampuan masing-masing model tersebut untuk mensimulasi proses-proses hidrologi, hidrolik, dan kualitas air disusun sedemikian rupa agar dapat digunakan untuk beberapa model (misalnya moda kejadian, keadaan tunak, atau menerus). Pemilihan model komputer yang sesuai untuk aplikasi tergantung pada permasalahan yang harus diselesaikan, ketelitian jawaban, dan rumit tidaknya sistem yang akan dimodelkan (Linsley dkk, 1986:404-405).
Air yang tersebar di alam semesta ini tidak pernah terdapat dalam bentuk murni, namun bukan berarti bahwa semua air sudah tercemar. Misalnya, walaupun di daerah pegunungan atau hutan yang terpencil dengan udara yang bersih dan bebas dari pencemaran, air hujan yang turun di atasnya selalu mengandung bahan-bahan terlarut, seperti CO2, O2, dan N2, serta bahan-bahan tersuspensi, misalnya debu dan partikel-partikel lainnya yang terbawa air hujan dan atmosfer.
Air sering digunakan sebagai medium pendingin dalam berbagai proses industri. Air pendingin tersebut setelah digunakan akan mendapatkan panas dari bahan yang didinginkan, kemudian dikembalikan ke tempat asalnya, yaitu sungai atau sumber air lainnya. Air buangan tersebut mungkin mempunyai suhu lebih tinggi daripada air asalnya.
Naiknya suhu air akan menimbulkan akibat sebagai berikut :
 Menurunnya jumlah oksigen terlarut dalam air.
 Meningkatkan kecepatan reaksi kimia.
 Mengganggu kehidupan ikan dan hewan air lainnya.
 Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati.
Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Di samping itu, suhu yang tinggi juga akan menurunkan jumlah oksigen yang terlarut di dalam air. Akibatnya, ikan dan hewan air akan mati karena kekurangan oksigen. Suhu air kali atau air limbah yang relatif tinggi ditandai antara lain dengan munculnya ikan-ikan dan hewan air lainnya ke permukaan untuk mencari oksigen (Kristanto, 2002:72,76).
Pengetahuan mengenai pengukuran kandungan oksigen dalam air sangat penting untuk diketahui. Sehingga kita dapat mengetahui seperti apa kandungan oksigen dalam air, metode pengukurannya, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kadarnya di dalam air.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan yang ingin dicapai dari praktikum ini adalah untuk mengetahui potensi kualitas air berbagai macam sumber air berdasarkan kandungan oksigen.

C. Manfaat Praktikum

Manfaat yang ingin diperoleh dari praktikum ini adalah agar kita dapat mengetahui potensi kualitas air berbagai macam sumber air berdasarkan kandungan oksigen.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Potensi kuantitas air ditentukan oleh jumlah air yang dimiliki atau dihasilkan oleh suatu ekosistem akuatik tersebut. Kuantitas air sungai ditentukan oleh besarnya debit air sungai. Sedangkan kualitas air ditentukan oleh faktor-faktor fisik, kimia dan bakteriologis. Sifat fisik kualitas air meliputi warna, bau, temperatur, benda padat, benda yang terlarut, minyak, dsb. Sedangkan sifat kimia kualitas air dinyatakan oleh parameter kandungan bahan organik dan anorganik. Pengujian kandungan bahan organik dapat melalui jumlah oksigen yang ada dalam air (Dissolved Oxygen/DO). Sedangkan pengujian kandungan bahan anorganik di dalam air dapat dilihat dari parameter salinitas, kesadahan, pH, alkalinitas, kandungan Fe, Mn, Cl, SO4, dsb. Selanjutnya sifat bakteriologi dari kualitas air dapat dilihat melalui kandungan bakteri coliform, kuman-kuman patogen dan parasitik (Jamili dan Muksin, 2003:28-29).
Kualitas air secara umum tergantung pada banyaknya konsentrasi endapan (sedimen) unsur-unsur kimia serta mikroba yang terdapat di dalamnya. Evaluasi kualitas air untuk kepentingan air irigasi adalah sangat penting. Hal ini mengingat pemberian air dalam jangka waktu lama dan terus-menerus (continue) akan mempengaruhi sifat kimia, fisika dan biologis tanah (Basri, 2002:153).
Pengambilan contoh kualitas air dan program-program analisisnya diperlukan untuk menentukan cocok tidaknya air untuk suatu keperluan, seperti misalnya untuk penggunaan domestik, industri, dan pertanian. Data yang berasal dari program yang dirancang dengan teliti bisa memberikan gambaran yang jelas tentang hubungan-hubungan geokimia dan hidrologi yang terjadi dalam sistem alami serta pengaruh kegiatan manusia terhadap sistem ini. Contoh-contoh kualitas air tersebut harus sungguh-sungguh mewakili air yang akan diselidiki. Berhasil tidaknya penggambaran zat-zat yang terlarut dan tersuspensi yang ada dalam air tergantung pada kebijakan dalam pemilihan lokasi pengambilan contoh, jenis dan frekuensi pengamatannya, serta peralatan dan prosedur yang digunakan (Linsley dkk, 1986:409).
Khusus untuk pertemuan dua sungai atau masuknya anak sungai, lokasi pengambilan sampel adalah di daerah dimana air kedua sungai diperkirakan telah bercampur secara sempurna. Untuk mengetahuinya, perlu dilakukan uji homogenitas air sungai. Uji homogenitas dilakukan dengan mengambil beberapa sampel di sepanjang lebar sungai dan pada kedalaman tertentu. Parameter ujinya antara lain suhu, derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (DO), dan Daya Hantar Listrik (DHL) (Hadi, 2005:85).
Penentuan oksigen terlarut harus dilakukan berkali-kali, di berbagai lokasi, pada tingkat kedalaman yang berbeda-beda dan pada waktu yang berbeda. Penentuan yang dilakukan di dekat lokasi pabrik akan lain hasilnya daripada lokasi yang jauh dari pabrik. Pengujian pada musim kemarau tentu akan memberikan hasil yang berbeda dengan pengujian pada musim penghujan. Jika oksigen terlarut terlalu rendah, maka organisme anaerob mungkin akan mati dan organisme aerob akan menguraikan bahan organik dan menghasilkan bahan seperti metana dan hidrogen suldfida. Zat-zat inilah yang mengakibatkan air berbau busuk (Kristanto, 2002:78).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 17 Mei 2008 pukul 08.00 – 10.00 WITA dan bertempat di Laboratorium Biologi Lanjutan Fakultas MIPA Universitas Haluoleo.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum interaksi faktor lingkungan (pengukuran kandungan oksigen dalam air) dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat dan kegunaan pada praktikum interaksi faktor lingkungan (pengukuran kandungan oksigen dalam air)
No. Nama Alat Kegunaan
1. Botol kecil Sebagai wadah untuk menyimpan sampel air PAM, air sungai dan air sumur
2. Buret Untuk titrasi sampel air PAM, air sungai dan air sumur
3. Gelas ukur 500 ml Sebagai wadah untuk menampung sampel air PAM, air sungai dan air sumur yang sudah dititrasi
4. Labu erlemenyer 100 ml Sebagai wadah untuk menampung sampel air PAM, air sungai dan air sumur yang sudah dititrasi
5. Pipet tetes Untuk mengambil larutan Sulfuric-acid 95 -97%, Na Sulfat 0,0251 M 1 N, larutan kanji dan Akali-1-Azida yang akan direaksikan dengan sampel air PAM, air sungai dan air sumur

Bahan yang digunakan dalam praktikum interaksi faktor lingkungan (pengukuran kandungan oksigen dalam air) dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan dan kegunaan pada praktikum praktikum interaksi faktor lingkungan (pengukuran kandungan oksigen dalam air)
No. Nama Bahan Kegunaan
1. Air PAM, air sungai dan air sumur Sebagai contoh sampel air yang akan diuji kualitas airnya
2. Sulfurid-acid 95 – 97% Sebagai bahan yang akan direaksikan dengan sampel air PAM, air sungai dan air sumur untuk mengukur kadar DO-nya
3. Na Sulfat 0,0251 M 1 N Sebagai bahan yang akan direaksikan dengan sampel air PAM, air sungai dan air sumur untuk mengukur kadar DO-nya
4. Vaselin Untuk melapisi buret agar kedap udara
5. Larutan kanji Sebagai bahan yang akan direaksikan dengan sampel air PAM, air sungai dan air sumur untuk mengukur kadar DO-nya
6. Mn Sebagai bahan yang akan direaksikan dengan sampel air PAM, air sungai dan air sumur untuk mengukur kadar DO-nya
7. Akali-1-Azida Sebagai bahan yang akan direaksikan dengan sampel air PAM, air sungai dan air sumur untuk mengukur kadar DO-nya

C. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum interaksi faktor lingkungan (pengukuran kandungan oksigen dalam air) adalah sebagai berikut :
1. Mengambil contoh air dari berbagai macam sumber yang akan diamati.
2. Pada setiap air tersebut, melakukan pengukuran kandungan O2 dengan menggunakan beberapa peralatan kimia seperti buret, gelas ukur 500 ml, labu erlemenyer 100 ml dan pipet tetes serta beberapa bahan kimia seperti Sulfuric acid 95 – 97 %, Na Sulfat 0,0251 M 1 N, vaselin, larutan kanji, Mn dan Akali-1-Azida.
3. Membandingkan hasil pengukuran kandungan O2 dari contoh air tersebut dan menafsirkan mengenai kualitas airnya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

Dari hasil praktikum interaksi faktor lingkungan (pengukuran kandungan oksigen dalam air) diperoleh data sebagai berikut :
No. Contoh Sampel Air Kandungan O2 (DO)
1. Air PAM 5,35 ppm
2. Air sungai 5,35 ppm
3. Air sumur 3,68 ppm

Analisis Percobaan Kandungan O2 (DO) dalam Air

ml x 0,025 x 8
Rumus : DO = x 1000
Volume sampel (150 ml)

1. Air PAM
4 x 0,0251 x 8
DO = x 1000 = 5,35 ppm
150

2. Air sungai
4 x 0,0251 x 8
DO = x 1000 = 5,35 ppm
150

3. Air sumur
2,75 x 0,0251 x 8
DO = x 1000 = 3,68 ppm
150

B. Pembahasan

Dalam praktikum ini, kita akan mengetahui potensi kualitas air dari berbagai macam sumber air berdasarkan kandungan oksigen di dalamnya. Dalam hal ini, kita menggunakan tiga sumber air sebagai sampel, yaitu air PAM, air sungai dan air sumur.
Salah satu cara untuk mengukur kualitas air adalah pengujian sifat kimia air. Dalam hal ini, kita dapat melakukan pengukuran kandungan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) yang terdapat dalam ketiga sampel air tersebut. Dari hasil pengukuran kandungan DO dari ketiga sampel air tersebut, ternyata air PAM dan air sungai memiliki kadar DO yang paling tinggi, yaitu 5,35 ppm. Sedangkan kadar DO air sumur hanya 3,68 ppm.
Dari hasil pengamatan di atas, kita mungkin dapat mengasumsikan bahwa kualitas air PAM dan air sungai lebih baik dibandingkan dengan air sumur. Hal ini bisa saja terjadi, jika sampel tersebut diambil dari sungai yang masih bersih dan belum tercemar. Tetapi, jika sampel tersebut diambil dari sungai yang airnya sudah tercemar, keruh, bau dan kotor, maka tentu saja kandungan DO-nya sangat sedikit, sehingga kualitas airnya jelek atau buruk. Sedangkan untuk air PAM sangat jelas memiliki kualitas yang baik. Hal ini disebabkan karena air PAM belum tercemar, baik secara fisik maupun secara kimia, sehingga banyak digunakan untuk keperluan sehari-hari, seperti memasak, mandi, air minum, dll. Sedangkan kualitas air sumur meskipun cukup baik, namun masih di bawah kualitas air PAM.
Jadi, jelaslah bahwa pengukuran kandungan oksigen terlarut (DO) dalam air merupakan salah satu parameter kimia untuk mengetahui potensi kualitas dari suatu sumber air. Kehidupan di air dapat bertahan jika terdapat oksigen terlarut minimal sebanyak 5 ppm (part per million atau 5 mg oksigen untuk setiap liter air). Selebihnya bergantung kepada ketahanan organisme, derajat keaktifannya, kehadiran bahan pencemar, suhu air, dan sebagainya. Oksigen terlarut dapat berasal dari proses fotosintesis tanaman air dan dari atmosfer (udara) yang masuk ke dalam air dengan kecepatan tertentu.
Konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh bervariasi tergantung dari suhu dan tekanan atmosfer. Pada suhu 20C dengan tekanan 1 atmosfer, konsentrasi oksigen terlarut dalam keadaan jenuh adalah 9,2 ppm, sedangkan pada suhu 50C dengan tekanan atmosfer yang sama, tingkat kejenuhannya hanya 5,6 ppm. Semakin tinggi suhu air, semakin rendah tingkat kejenuhan.
Konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu rendah akan mengakibatkan ikan-ikan dan hewan air yang lain yang membutuhkan oksigen akan mati. Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu tinggi juga mengakibatkan proses korosi yang semakin cepat karena oksigen akan mengikat hidrogen yang melapisi permukaan logam.
Pengujian yang berhubungan dengan kandungan oksigen dalam air dibedakan menjadi dua, yakni uji BOD (Biochemical Oxygen Demand = uji kebutuhan oksigen biokimia) dan uji COD (Chemical Oxygen Demand = uji kebutuhan oksigen kimia). BOD menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk menguraikan atau mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air. Jadi nilai BOD tidak menunjukkan jumlah bahan organik yang sebenarnya, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan tersebut. Jika konsumsi oksigen tinggi, yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut di dalam air, maka berarti kandungan bahan buangan yang membutuhkan oksigen adalah tinggi.
BOD dapat diterima bilamana jumlah oksigen yang akan dihabiskan dalam waktu lima hari oleh organisme pengurai aerobik dalam suatu volume limbah pada suhu 20C. Hasilnya dinyatakan dengan ppm. Jadi BOD sebesar 200 ppm berarti bahwa 200 mg oksigen akan dihabiskan oleh sampel limbah sebanyak 1 liter dalam waktu lima hari pada suhu 20C.
Untuk mengetahui jumlah bahan organik di dalam air dapat dilakukan dengan suatu uji yang lebih cepat dari uji BOD, yaitu berdasarkan reaksi kimia dari suatu bahan oksidan. Uji ini disebut dengan uji COD, yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan, misalnya kalium dikromat, untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air.
Bakteri dapat mengoksidasi zat organik menjadi CO2 dan H2O, kalium dikromat dapat mengoksidasi lebih banyak lagi, sehingga menghasilkan nilai COD yang lebih tinggi dari BOD untuk air yang sama. Di samping itu bahan-bahan yang stabil terhadap reaksi biologi dan mikroorganisme dapat ikut teroksidasi dalam uji COD. 96% hasil uji COD yang dilakukan selama 10 menit, kira-kira akan setara dengan hasil uji BOD selama 5 hari.
Senyawa klor, selain mengganggu uji BOD, juga dapat mengganggu uji COD, karena klor dapat bereaksi dengan kalium dikromat. Cara pencegahannya adalah dengan menambahkan merkuri sulfat yang akan bereaksi dengan klor membentuk senyawa kompleks.
Selain itu, suhu juga berpengaruh terhadap kandungan oksigen terlarut di dalam air. Jika suhu air meningkat, maka kandungan oksigen terlarut di dalam air akan menurun. Sebagai contoh, ikan yang hidup di air yang mempunyai suhu yang relatif tinggi akan mengalami kecepatan respirasi. Artinya, ikan tersebut membutuhkan kadar O2 yang lebih banyak untuk respirasi, sehingga kandungan oksigen terlarut dalam air menjadi berkurang.

BAB V
PENUTUP

A. Simpulan

Dari hasil pengamatan pada praktikum ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Pengukuran kandungan oksigen terlarut (DO) dalam air merupakan salah satu parameter kimia untuk mengukur potensi kualitas air.
2. Dalam praktikum ini, air PAM dan air sungai memiliki kandungan oksigen terlarut (DO) yang paling tinggi, yaitu 5,35. Sedangkan kadar DO air sumur sebesar 3,68.
3. Pengujian yang berhubungan dengan kandungan oksigen dalam air dibedakan menjadi dua, yakni uji BOD (Biochemical Oxygen Demand = uji kebutuhan oksigen biokimia) dan uji COD (Chemical Oxygen Demand = uji kebutuhan oksigen kimia).
4. Suhu juga berpengaruh terhadap kandungan oksigen terlarut di dalam air. Jika suhu air meningkat, maka kandungan oksigen terlarut di dalam air akan menurun.

B. Saran
Saran yang dapat kami ajukan dalam pelaksanaan praktikum interaksi faktor lingkungan (pengukuran kandungan oksigen dalam air) adalah agar para asisten bisa memahami dan mengerti keadaan para praktikannya. Dalam arti jika para praktikan telah melakukan kesalahan, baik dalam pelaksanaan praktikum, maupun dalam pembuatan laporan, para asisten dapat memaklumi dan memaafkan kesalahan dari para praktikannya. Kami sebagai praktikan juga meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada para asisten jika kami melakukan kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA
Basri, H., 2002, Agroekologi, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Hadi, A., 2005, Pengambilan Sampel Lingkungan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Jamili, Muksin, 2003, Penuntun Praktikum Dasar-dasar Ekologi, FMIPA Unhalu, Kendari.
Kristanto, P., 2002, Ekologi Industri, Penerbit Andi, Yogyakarta.
Linsley, R. K., M. A. Kohler, J. L. H. Paulhus, Y. Hermawan, 1986, Hidrologi Untuk Insinyur, Erlangga, Jakarta.

About aatunhalu

Aku pengen melihat orang yang selalu optimis pada dirinya

Posted on April 9, 2009, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: